Thursday, November 19, 2009

Sepenggal Kisah Jam 11 malam

Malam itu perut ini terasa sangat lapar padahal jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, sejauh yang saya ingat sorenya saya sudah makan tapi kenapa kali ini perut sangat susah untuk dapat diajak berkompromi menunggu datangnya pagi...???. Akhirnya saya memutuskan untuk keluar rumah demi mengabulkan permintaan perut ini. Saya tidak tahu dimana harus mencari makan selarut ini; saya hanya mengikuti laju kendaraan ini yang akhirnya melirik gang sempit berlabel Erlangga. Disanalah kutemukan sebuah tempat makan bernama Warteg bertuliskan 24 JAM; dan alhamdulillah disana saya dapat menyalurkan hasrat makan saya sepuasnya. Perut kenyang...waktunya balik ke rumah dan rencananya melanjutkan tidur......

Keluar dari pintu warteg, saya melihat orang tua yang menuntun sepedanya menyeruak keluar dari balik bayangan malam, walau agak samar tapi bisa kulihat raut mukanya yang keriput menandakan bahwa beliau berusia kisaran 70 tahun. Sepertinya bapak ini sudah sedari tadi nongkrong di depan warteg. Sambil terus memandanginya tiba-tiba saja sang bapak ini menyahut dan mendekatiku sambil berkata "beli korannya mas, seribu saja ndak apa-apa". Wah.....aneh sekali jam 11.30 malam ada yang jual koran? "tidak pak, terimakasih" sahutku.

setelah mendengar jawaban itu beliau menuntun sepedanya menjauhi warteg dan sayapun memacu kendaraan berlawanan arah dengan sang bapak tua tadi.

Logika saya merespon "koran kok harganya seribu, benar-benar mencurigakan" batinku...Deg..deg..."tiba-tiba saja jantung saya berdesir kuat terasa didobrak dari belakang" rasanya seperti ditusuk-tusuk!!!! gilaaaa perasaan apa ini????? ...ada perasaan aneh berdesir didada saya yang tidak bisa saya terjemahkan dengan LOGIKA; syaraf SENSORIK saya mendeteksi adanya getaran yang tidak masuk di nalar!!!
apakah ada yang salah dengan jawaban saya ke sang bapak tua tadi????? ....perasaan ini mengatakan "hey apa yang telah kau lakukan? cepatlah berbalik dan beli koran itu!!!!" Syaraf MOTORIK tangan saya tak kuasa menolak ketika otak saya memerintahkan untuk membalikkan arah kendaraan melaju tempat sang bapak tua itu. Syukurlah masih kutemukan sang bapak tersebut yang duduk lemas bersandar pada sebuah pohon "Pak saya jadi nih beli korannya, harganya berapa?" tanyaku. "seribu aja mas". sambil merogoh kantong kuberikan uang 5000an "sisanya buat bapak saja". "Oh makasih banyak mas" walau lamat bisa terdengar sayup "syukur" dari lesan beliau setelah beliau berterima kasih.

Selang setelah kutinggalkan bapak tadi, desiran kuat dijantung saya berangsur-angsur sirna!!!. saya benar-benar tidak tahu perasaan macam apa ini????. dari kejauhan bisa kulihat sang bapak tua ini menuju warteg dan memesan makan. Ya Allah apakah mungkin lapar yang kurasakan bukanlah "laparku" melainkan "lapar" dari sang bapak tua tadi??? Maafkan saya ya Tuhan jika SYARAF SENSORIK ini terkesan LAMBAT merespon....

Catatan kaki :
Malam itu aku kenyang; kenyang makan dan berbonus kenyang kebaikan...!!!!



Followers